Jumat, 25 Februari 2011

hujan dan matahari

i am only human
with flesh and blood are made
i am only human
born to make mistakes… (human…)

Dua hal yang sering kita temukan pada saat-saat ini.  hujan yang romantis dan matahari yang maskulin. lalu? ada apa dengan kedua mahluk Allah itu? apa sich yang menghubungkan keduanya, atau apa sich yang dekat dengan keduanya?
 
Terlepas dari semuanya, saya mengambil kedua kata di atas dari status FB teman saya. ketika saya melihatnya, langsung saja saya berkomentar, “kurang awan hitamnya dan m atahari menjadi hilang karena mendung”. ya itu yang terlintas di pikiran saya. tapi tak beberapa lama, ada yang berkomentar berbeda, “pelangi”. yup, saya langsung tersentak, memang ternyata jawaban seharusnya adalah pelangi. itu juga yang di maksud oleh teman saya. ketika ada hujan dan matahari yang terbentuk adalah pelangi. kenapa saya bisa lupa dengan pelangi? Padahal itu adalah bagian yang paling saya sukai dari hujan, walalupun kecintaan saya akan hujan tidak bisa di bandingkan dengan pelangi. karena kalo tidak  ada hujan, pelangi tidak akan hadir.

semua jawaban, semua pemikiran, semua yang ada di kepala tidak jauh dari segala yang ada di lingkungan kita. karena manusia itu terbentuk oleh lingkungannya. ketika kita melihat orang di eropa akan sangat berbeda sikapnya dengan orang di afrika. karena ada sebuah cuaca dan lingkungan yang berbeda. begitu juga dengan saya.

Awalnya saya berfikir kalo saya berfikir negatif. jadi jawabannya negatif. tapi setelah saya amati, sepertinya bukan karena negatif atau positif. awan hitam dan mendung bukan lah jawaban negatif, itu hanya sebuah analisa dari dua buah kata “hujan dan matahari”. nah, kenapa saya bisa membuat analisa seperti itu? karena pada waktu itu saya sedang di perjalanan ke curug 7. di perjalanan di temani dengan hujan kecil dan besar. cuaca pun mendung tanpa matahari, hujan sebentar berhenti lalu hujan lagi. 


Cermin pelangi

“Kebanyakan orang belajar secara visual, tapi kita berkomunikasi secara abstrak.”

Pernah tidak membuat kesimpulan yang salah tentang suatu keadaan? saya pernah dan sering menemukan di sekitar saya. sebagai contoh, penilaiaan saya kepada tingkat ruhiyah seorang akhwat. dahulu saya hanya melihat dari manset,jilbab, dan sikap. ketika tidak memakai manset, jibabnya transparan atau pendek, sikapnya terlalu cair dan banyak bercanda, bahkan lebih suka memakai celana panjang ketimbang rok membuat saya menilai agak kurang baik ketimbang yang memakai manset, jilbab panjang dan tebal, memakai rok terus, tidak cair dan memandang jalan terus (menjaga pandangan).

Ternyata tidak selalu benar. misalnya seorang akhwat yang memakai celana panjang belum tentu futur atau tidak baik. karena ternyata kita tidak bisa menilai dari situ. ini kata teman saya yang kuliah di psikologi universitas indonesia, dia akhwat. begitu juga yang lainnya, belum tentu menjaga pandangan berbanding lurus dengan ketidakfuturan, belum tentu berbanding lurus dengan kecakapan dalam menjaga hati orang lain agar tidak terlukai.

Pernah juga ada seorang akhwat yang menilai akhwat lainnya dengan sebelah mata. hanya karena dia memakai celana panjang, tidak berjilbab panjang, terliahat cair dengan lawan jenis, dengan tak bersalahnya dia malah menanyakan ” dia akhwat bukan sich? ” huahhhhh…. memang dia ikhwan? kenapa selalu ada dikotomisasi antara akhwan dan perempuan, antar akhwat dan muslimah. kenapa kita selalu membuat kata-kata khusus yang terkesan memperlihatkan kita lebih suci dan baik ketimbang yang lain. sudahkah kita lepas dari sikap ini? atau mungkin kita masih berkubang di dalamnya tanpa sadar atau mungkin malah bangga.
Tidak semua orang tua yang baik bahkan agen dakwah akan melahirkan anak yang sama seperti dia. Tidak semua anak aktivis dakwah suka dengan buku-buku harokah yang di baca oleh orang tuanya. tidak semua anak yang berasal dari keluarga baik-baik suka dengan keluarganya. bisa saja dia bosan dengan keadaan yang baik-baik saja. jadi jangan lagi menilai dari siapa orang tuanya. tapi cobalah bebaskan mereka dari beban beban itu, dan perlakukan sebagaimana mestinya.

Bukankah kita lebih baik menyarankan dia kearah lebih baik dari pada sibuk dengan hitung-hitungan penilaian? bukankah lebih baik kita bersibuk-sibuk menyeru akan kebaikan dari pada bersibuk untuk membela diri? apalagi membuat hukum-hukum sosial baru yang seenak pemikirannya sendiri. iman itu tidak diwariskan kawan..

Kita masih bicara ghazwul fikri, dan belum bicara strategi kebudayaan. kita masih membicarakan kesalahan, dan belum membicarakan solusi. ketika ada hujan deras jangalah di tambah seram dengan petir dan badai, cobalah pikirkan matahari agar pelangi yang tercipta. ketika kemunkaran ada di depan mata janganlah di dramatisir dengan menghakimi, tapi cobalah untuk merubah kemungkaran dengan menjadi seorang mujahid sejati.

25 januari 2010, 23.14
Di barak pribadi, di temani hujan besar tanpa matahari :)

http://pandakeadilan.multiply.com/journal/item/266

Rabu, 23 Februari 2011

Bulan dan hujan

Tak ada bulan untuk malam yang mendung
Tak ada hujan untuk hari yang cerah
Dingin jadi tidak basah
sinar jadi tidak indah
walaupun hanya pantulan

bulan mengapa kau beri sinarmu
padahal ini masih pagi
kau memang menjadi indah
tetapi menjadi hal yang tak perlu

masih ada matahari
mengapa kau datang
di saat ku mencoba mengerti
kau malah hilang di antara mendung

hujan pun turun
pisahkan kita
basahi hati ini
basahi kalu ini

Lalu kenapa di paksakan
Meninggalkan bekas
Jadi bingung menghilangkannya
Di hancurkan atau di leburkan
Entahlah
Aku tidak akan sudi begini
Aku tidak akan bertahan seperti ini

Selasa, 15 Februari 2011

catatan kecil #1 (jangan takut)

Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil..............(1)

Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan.Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77) ........(2)


Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri.....(3)


iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32).Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut)........(4)


“Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i). Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby).........(5)


mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati......(6)


Danu ardi kuncoro
@danuardik